BACHELOR-JOBSEEKER

  Kerlipan bola mata yang terasa amat berat, ku paksakan untuk terbangun di pagi yang cukup sejuk akibat hawa selepas dihujami air dari langit, ya Hujan! Sudah memasuki hari ke-8 dari hari ini umat islam di nusantara melaksanakan ibadah puasa. Dan setiapkali mengetuk waktu ashar luapan awan sendu mulai menyelimuti langit sore. Yah, pertanda langit akan ‘menangis’. Dihampir setiap hari hingga saat ini bahkan terkadang hingga tengah malam ia ‘menangis’. Sebetulnya aku tak paham, sebelum memasuki bulan suci Ramadan, BMKG berpesan bahwa Ramadan kali ini akan disinari mentari yang cukup terik karna sudah waktunya memang musim panas tropis. Tetapi, kuasa Tuhan tak dapat dielakkan oleh tekhnologi, kepercayaan, bahkan manusia sekalipun. Sebab Tuhanlah maha pengatur segalanya. Seperti sabda-Nya “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, Dia memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu dihidupkannya bumi setelah mati (kering). Sungguh, pada yang demikian benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengerti. (Ar-Rum/30:24)
        Di Ramadan tahun ini aku menjadi makhluk benama ‘JOBLESS’ alias ‘PENGANGGURAN’. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kesibukan tugas dan masih berstatus sebagai mahasiswa telah terlepas dari titelku. Sekarang aku sudah bisa dikatakan ‘Bachelor’ alias ‘Sarjana Muda’ tapi belum produktif. Maka dari itu, rasanya setiap kali aku bangun pagi yang sebetulnya adalah waktu favoritku selain tengah malam, aku termenung tak berselera menjalani hidupku yang sangat membosankan. Kegiatan yang hanya berkutat pada tiga hal; Kasur, Dapur, dan Sumur. Tak ayal memang karna aku wanita yang sudah sepantasnya melakukan tiga hal itu dihidupku. Tapi, adakah yang lebih membuat passionku hidup sebagai manusia yang sepatutnya berproduktif seperti ikrar yang dilantangkan pada saat aku di ‘baptis’ menjadi ‘Bachelor’ saat kelulusanku? Bunyinya kurang lebih seperti ini :
IKRAR SARJANA
Kami wisudawan Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, dengan penuh kesadaran berikrar :
1.  Patuh dan setia mengamalkan ajaran Islam
2.  Melaksanakan cita-cita pembangunan bangsa dan Negara Repulik Indonesia
3.  Menjunjung tinggi norma dan ilmu pengetahuan, serta selalu berusaha untuk menggali, mengembangkan, dan mengabdikan diri kepada masyarakat
4.  Menjaga nama baik Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten dan Korps Alumni
5.  Mengutamakan kepentingan agama, bangsa dan Negara diatas kepentingan lainnya
Yah, point ke-2 dan ke-3 menjadi motivasiku dalam menjadi manusia yang berproduktif. Menjadi seorang bachelor yang bercita-cita selangit ini membuatku berkhayal tingkat dewa, dan banyak keinginan yang ingin beberapa aku raih. Namun yang lebih mengacu pada point yang ku petik diatas ialah, aku ingin meniti karirku pada beberapa bidang yang sebetulnya tak sesuai dengan konsentrasi yang ku pilih di universitas. Aku ingin mencoba di bidang lain sebelum aku terjun pada bidangku sendiri. Bukan tanpa alasan aku memilih jalan itu. Segudang alasan yang aku miliki tersimpan rapi dalam dokumen pikiranku yang semoga dapat aku raih satu persatu.
    Melihat dari apa yang dirasakan rekan-rekanku yang samahalnya Bachelor sepertiku, ternyata sensasi itu dapat aku rasakan terhadap apa yang mereka rasakan selama penantian jobseeker ini. Hidup seperti orang setengah bingung dan hampir gila, penuh kebosanan menyeruak, pandangan orang-orang tentang diri sebagai sampah yang masih bergantung kepada kedua Tertua yang hingga saat ini masih menghidupi seorang Bachelor. Bukan tanpa minat bagiku untuk melepaskan belenggu tertuaku, tetapi memang jalan Tuhan yang merencanakan seorang Jobseeker untuk lebih Sabar, Tawakal, dan berserah diri terhadap keputusan yang Ia berikan.
Berdasarkan pendeskripsian diatas, hidup yang terlampau ‘statis’ ini aku rasakan tiap kali aku membuka lensa mataku dipagi hari. Disaat semua orang mempersiapkan kegiatan karirnya, aku hanya melirik lalu lalang mereka yang berpergian meninggalkan persinggahan ke tempat gemilang karir yang merupakan citanya. Aku iri setengah mati, tapi ku selalu teguhkan hati bahwa jalan hidup tak dapat dipilih. Namun, dibalik itupun aku tetap berusaha sebagaimana makhluk Tuhan yang berAkal dalam melakukan segalanya tetap pada porsi yang ku punya. Dan aku selalu mengingat bahwa dalam lembaran Al-Qur’an menerangkan ayat yang menyatakan “Dan orang-orang yang berusaha untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Al-Ankabut 96).
        Dari petikkan ayat Al-Qur’an diatas menyadarkanku akan kuasa Tuhan yang tiada habisnya memberikan kejutan hidup yang menhiasi dan memberikan makna tersendiri atas rencana yang disusun-Nya. Untuk itu, baik aku maupun Bachelor lainnya alangkah baiknya tetap bersabar dan tawakal akan rencana yang tak terprediksi secara pasti oleh akal ketimbang keajaiban dari sang illahi.

Komentar